Skip to main content

Payung Biru Muda

Katanya gadis berbaju merah muda selutut itu suka hujan. Bukan seperti orang-orang yang sering berkata serupa, tapi ia benar benar suka hujan. Tak pernah ia memiliki payung, bahkan jika temannya hendak berbagi payung pun ia tak menerima ajakannya. Ia memilih menanggahkan kepala menyambut setiap tetes air yang jatuh. Senyumnya selalu lebar jika hujan telah melunturkan bedak tipisnya dan membasahi rambut yang tergerai. Kadang dia berlari, kadang dia melebarkan tangannya sambil menari.

"Berteduhlah, nanti kau sakit!" Beberapa orang meneriakinya, beberapa lainnya bertanya tanya apa yang terjadi padanya, apakah dia sudah gila? Tawanya memecah hujan. Dia hanya melirik dan kadang mengajak orang orang yang memperhatikannya bergabung.


"Aku sedang mencari bahagia!" Katanya. "Mencari bahagia dari rintik yang jatuh, yang selalu bisa kembali ke awan setelah melalui perjalanan panjang. Tak pernah ia lelah dalam perjalanannya, akan tetapi dalam perjalanannya pula ia menguntungkan banyak orang bahkan menyelamatkan banyak nyawa." Juga membahagiakan orang orang sepertinya.


Hujan semakin menderas hari itu. Ia menarik tangan orang-orang yang memperhatikannya.


"Aku tidak gila, rasakan lah sendiri partikel bahagia!" Satu persatu orang disekitarnya bergabung dibawah hujan, satu persatu mereka bergabung menari di bawah hujan pula, mengikutinya.


"Mengapa aku tidak mengikutimu sejak dulu!" Mereka berkata padanya dengan mata berbinar, membuat senyumnya semakin lebar.


Hujan masih deras saat seorang lelaki dengan payung biru muda menghampirinya.


"Aku tak perlu payung, aku suka hujan" Ia berkata pada lelaki dihadapannya itu.


"Kemarilah" Ia mendekat dan mengusap pipinya. "Yang ada di pipimu ini bukan air hujan, kemarilah, ada apa? Biarkan aku mengantarmu ke tempat yang teduh, mengeringkan pakaian mu, lalu aku siapkan teh hangat untuk menemanimu bercerita"


Sejak saat itu, ia berterimakasih pada hujan dan meminta maaf karena kali ini ia lebih memilih berada di bawah payung biru muda. 

Comments

Popular posts from this blog

Jamuan Selamat Datang di Klub Pemimpi

Selamat datang. Jika kalian saat ini sedang berbicara denganku, berarti kalian sedang duduk di rumput taman dengan secangkir teh hijau. Aku menuangkannya dari teko ke cangkir klasik cina, dimana sejarah teh dimulai. Cangkir kita bertiga sudah penuh dan beruap, lalu aku meletakkan teko di samping buku dan kertas-kertas surat. Ini adalah seremonial sambutan selamat datang, atau bisa jadi hanya cakap-cakap santai untuk perkenalan dan penawaran. Sebelum kalian bertanya mengapa aku membawa teko, cangkir teh, dan buku-buku lengkap dengan kertas surat, setelah seruput pertama teh hijau yang harum ini aku akan bertanya duluan. Kenapa kalian mampir? Apa karena penasaran dengan orang aneh yang memindahkan kedai teh dan perpustakaan ke taman kampus? Atau di tumpukkan bukuku ini ada buku favoritmu dan ingin berbincang tentang  happy sad ending  nya? Sebentar, ini kartu namaku. Profesi; pengumpul cerita. Bukan jurnalis, bukan sastrawan. Salam kenal. Aku menyudahi semua sambutan dan kalian ...

Layang-Layang

Rumah kayu itu reyot dan terpencil tidak berpenghuni, warnanya kusam dimakan waktu. Jendelanya yang buram pecah di bagian tengah. Tak ada satu lampu pun  yang meneranginya di malam hari, lengkap sudah kriteria tempat itu untuk menjadi cerita horror satu kecamatan yang akan viral dengan berbagai versi. Orang-orang melihat rumah itu dari jauh dengan satu nuansa yang sama; horror. Namun karena itu, mereka tak melihat bahwa sebenarnya pekarangannya luas macam rumah singgah istana. Berada tepat diantara pohon-pohon angsana rindang, ki hujan remaja yang mudah dipanjat, juga pohon mangga yang rutin berbuah bersamaan dengan musim anak-anak memburu layangan putus. Angin bulan September yang berwarna indigo menerbangkan layangan incaranku, sedangkan dua orang anak kampung tanpa alas kaki mengejar dari lawan arah, ditambah lagi laki-laki botak yang muncul dari balik kerbau di ujung sawah. Hap!  "Dapat!" Aku meraih ujung layangan dengan mudah dari atas pohon yang sedang aku duduki, dan p...