Katanya gadis berbaju merah muda selutut itu suka hujan. Bukan seperti orang-orang yang sering berkata serupa, tapi ia benar benar suka hujan. Tak pernah ia memiliki payung, bahkan jika temannya hendak berbagi payung pun ia tak menerima ajakannya. Ia memilih menanggahkan kepala menyambut setiap tetes air yang jatuh. Senyumnya selalu lebar jika hujan telah melunturkan bedak tipisnya dan membasahi rambut yang tergerai. Kadang dia berlari, kadang dia melebarkan tangannya sambil menari.
"Berteduhlah, nanti kau sakit!" Beberapa orang meneriakinya, beberapa lainnya bertanya tanya apa yang terjadi padanya, apakah dia sudah gila? Tawanya memecah hujan. Dia hanya melirik dan kadang mengajak orang orang yang memperhatikannya bergabung.
"Aku sedang mencari bahagia!" Katanya. "Mencari bahagia dari rintik yang jatuh, yang selalu bisa kembali ke awan setelah melalui perjalanan panjang. Tak pernah ia lelah dalam perjalanannya, akan tetapi dalam perjalanannya pula ia menguntungkan banyak orang bahkan menyelamatkan banyak nyawa." Juga membahagiakan orang orang sepertinya.
Hujan semakin menderas hari itu. Ia menarik tangan orang-orang yang memperhatikannya.
"Aku tidak gila, rasakan lah sendiri partikel bahagia!" Satu persatu orang disekitarnya bergabung dibawah hujan, satu persatu mereka bergabung menari di bawah hujan pula, mengikutinya.
"Mengapa aku tidak mengikutimu sejak dulu!" Mereka berkata padanya dengan mata berbinar, membuat senyumnya semakin lebar.
Hujan masih deras saat seorang lelaki dengan payung biru muda menghampirinya.
"Aku tak perlu payung, aku suka hujan" Ia berkata pada lelaki dihadapannya itu.
"Kemarilah" Ia mendekat dan mengusap pipinya. "Yang ada di pipimu ini bukan air hujan, kemarilah, ada apa? Biarkan aku mengantarmu ke tempat yang teduh, mengeringkan pakaian mu, lalu aku siapkan teh hangat untuk menemanimu bercerita"
Sejak saat itu, ia berterimakasih pada hujan dan meminta maaf karena kali ini ia lebih memilih berada di bawah payung biru muda.
Comments
Post a Comment