Katanya gadis berbaju merah muda selutut itu suka hujan. Bukan seperti orang-orang yang sering berkata serupa, tapi ia benar benar suka hujan. Tak pernah ia memiliki payung, bahkan jika temannya hendak berbagi payung pun ia tak menerima ajakannya. Ia memilih menanggahkan kepala menyambut setiap tetes air yang jatuh. Senyumnya selalu lebar jika hujan telah melunturkan bedak tipisnya dan membasahi rambut yang tergerai. Kadang dia berlari, kadang dia melebarkan tangannya sambil menari. "Berteduhlah, nanti kau sakit!" Beberapa orang meneriakinya, beberapa lainnya bertanya tanya apa yang terjadi padanya, apakah dia sudah gila? Tawanya memecah hujan. Dia hanya melirik dan kadang mengajak orang orang yang memperhatikannya bergabung. "Aku sedang mencari bahagia!" Katanya. "Mencari bahagia dari rintik yang jatuh, yang selalu bisa kembali ke awan setelah melalui perjalanan panjang. Tak pernah ia lelah dalam perjalanannya, akan tetapi dalam perjalanannya pula ia menguntu...
Gajah belum dimandikan. Simpanse belum diberi minyak ikan. Burung Beo belum diajak bicara. Satu jam yang lalu ia terlalu sibuk dengan harimau yang marah karena terlambat sepuluh menit sampai kandang. Sejak kapan harimau bisa baca jam? lagipula panggilan alam tak bisa ditunda. Andai saja Lorex- harimau itu mengerti, ia tak perlu berlama lama sibuk mencari cara membuka kandang yang dihalanginya. Ia terlambat lagi ke sekolah. Nenek tak mengerti rasanya hari Rabu ditahan penjaga piket yang tak pernah mendengarkan alasan. Ekspresi datar saat menghampiri penjaga piket yang geleng-geleng kepala seperti biasa. Rapot perilakunya memang selalu merah di bagian datang tepat waktu, dan tak ada yang peduli. “Sebentar lagi, kamu lulus sekolah. Selamat ya Dimas, apa cita-citamu?” “Cita-cita ku adalah bisa terus bercita-cita, Bu. Bukannya was-was dimakan harimau tiap pagi.”