Skip to main content

Layang-Layang

Rumah kayu itu reyot dan terpencil tidak berpenghuni, warnanya kusam dimakan waktu. Jendelanya yang buram pecah di bagian tengah. Tak ada satu lampu pun  yang meneranginya di malam hari, lengkap sudah kriteria tempat itu untuk menjadi cerita horror satu kecamatan yang akan viral dengan berbagai versi.

Orang-orang melihat rumah itu dari jauh dengan satu nuansa yang sama; horror. Namun karena itu, mereka tak melihat bahwa sebenarnya pekarangannya luas macam rumah singgah istana. Berada tepat diantara pohon-pohon angsana rindang, ki hujan remaja yang mudah dipanjat, juga pohon mangga yang rutin berbuah bersamaan dengan musim anak-anak memburu layangan putus.

Angin bulan September yang berwarna indigo menerbangkan layangan incaranku, sedangkan dua orang anak kampung tanpa alas kaki mengejar dari lawan arah, ditambah lagi laki-laki botak yang muncul dari balik kerbau di ujung sawah.

Hap! 

"Dapat!" Aku meraih ujung layangan dengan mudah dari atas pohon yang sedang aku duduki, dan para lawan pun kecewa.

"Sini lah kemarikan layangannya Tara! kamu anak perempuan mana bisa main layangan" Teriak laki-laki botak tadi dari bawah pohon.

Aku hanya mengangkat sebelah alis, meloncat dari ranting ke ranting lalu kehadapannya, dan menggeleng. Layangan ini milikku, urusan bisa atau tidak memainkannya itu belakangan. Tiga orang itu aku tinggalkan dan dengan mendengus, mereka kembali memantau kekalahan layangan lainnya di antara awan.

Tidak lama setelahnya, para pengincar layangan putus melihat sesuatu yang tidak biasa. Bahkan kali ini, bukan hanya anak layangan yang melihat keatas. Anak-anak perempuan, remaja, ibu-ibu penjaga warung, hingga tukang baso pun melihat ke arah layangan ukuran besar yang sedang mengudara itu.

‘SE-MA-NGAT’ tertulis di bagian depannya dengan spidol merah. Namun sepertinya tulisan itu tidak terlalu terlihat, lagipula bukan itu yang membuat orang-orang melihat keatas.

Aku mengulur benang wol yang diikat ke ujung layangan. Tak lupa aku berterimakasih kepada tukang balon yang kebetulan lewat sore itu. Tanpa balon-balon heliumnya yang diikat pada tiap sisi buluh, layanganku tak akan bisa terbang. Aku memang tak bisa menerbangkan layangan seperti anak laki-laki itu, tapi sudah ku bilang, urusan bisa atau tidak menerbangkannya belakangan.





Comments

Popular posts from this blog

Jamuan Selamat Datang di Klub Pemimpi

Selamat datang. Jika kalian saat ini sedang berbicara denganku, berarti kalian sedang duduk di rumput taman dengan secangkir teh hijau. Aku menuangkannya dari teko ke cangkir klasik cina, dimana sejarah teh dimulai. Cangkir kita bertiga sudah penuh dan beruap, lalu aku meletakkan teko di samping buku dan kertas-kertas surat. Ini adalah seremonial sambutan selamat datang, atau bisa jadi hanya cakap-cakap santai untuk perkenalan dan penawaran. Sebelum kalian bertanya mengapa aku membawa teko, cangkir teh, dan buku-buku lengkap dengan kertas surat, setelah seruput pertama teh hijau yang harum ini aku akan bertanya duluan. Kenapa kalian mampir? Apa karena penasaran dengan orang aneh yang memindahkan kedai teh dan perpustakaan ke taman kampus? Atau di tumpukkan bukuku ini ada buku favoritmu dan ingin berbincang tentang  happy sad ending  nya? Sebentar, ini kartu namaku. Profesi; pengumpul cerita. Bukan jurnalis, bukan sastrawan. Salam kenal. Aku menyudahi semua sambutan dan kalian ...