Skip to main content

Kebun Binatang


Gajah belum dimandikan. Simpanse belum diberi minyak ikan. Burung Beo belum diajak bicara. Satu jam yang lalu ia terlalu sibuk dengan harimau yang marah karena terlambat sepuluh menit sampai kandang. Sejak kapan harimau bisa baca jam? lagipula panggilan alam tak bisa ditunda. Andai saja Lorex- harimau itu mengerti, ia tak perlu berlama lama sibuk mencari cara membuka kandang yang dihalanginya. 


Ia terlambat lagi ke sekolah. Nenek tak mengerti rasanya hari Rabu ditahan penjaga piket yang tak pernah mendengarkan alasan. Ekspresi datar saat menghampiri penjaga piket yang geleng-geleng kepala seperti biasa. Rapot perilakunya memang selalu merah di bagian datang tepat waktu, dan tak ada yang peduli.


“Sebentar lagi, kamu lulus sekolah. Selamat ya Dimas, apa cita-citamu?”


“Cita-cita ku adalah bisa terus bercita-cita, Bu. Bukannya was-was dimakan harimau tiap pagi.”


Comments

Popular posts from this blog

Jamuan Selamat Datang di Klub Pemimpi

Selamat datang. Jika kalian saat ini sedang berbicara denganku, berarti kalian sedang duduk di rumput taman dengan secangkir teh hijau. Aku menuangkannya dari teko ke cangkir klasik cina, dimana sejarah teh dimulai. Cangkir kita bertiga sudah penuh dan beruap, lalu aku meletakkan teko di samping buku dan kertas-kertas surat. Ini adalah seremonial sambutan selamat datang, atau bisa jadi hanya cakap-cakap santai untuk perkenalan dan penawaran. Sebelum kalian bertanya mengapa aku membawa teko, cangkir teh, dan buku-buku lengkap dengan kertas surat, setelah seruput pertama teh hijau yang harum ini aku akan bertanya duluan. Kenapa kalian mampir? Apa karena penasaran dengan orang aneh yang memindahkan kedai teh dan perpustakaan ke taman kampus? Atau di tumpukkan bukuku ini ada buku favoritmu dan ingin berbincang tentang  happy sad ending  nya? Sebentar, ini kartu namaku. Profesi; pengumpul cerita. Bukan jurnalis, bukan sastrawan. Salam kenal. Aku menyudahi semua sambutan dan kalian ...

Layang-Layang

Rumah kayu itu reyot dan terpencil tidak berpenghuni, warnanya kusam dimakan waktu. Jendelanya yang buram pecah di bagian tengah. Tak ada satu lampu pun  yang meneranginya di malam hari, lengkap sudah kriteria tempat itu untuk menjadi cerita horror satu kecamatan yang akan viral dengan berbagai versi. Orang-orang melihat rumah itu dari jauh dengan satu nuansa yang sama; horror. Namun karena itu, mereka tak melihat bahwa sebenarnya pekarangannya luas macam rumah singgah istana. Berada tepat diantara pohon-pohon angsana rindang, ki hujan remaja yang mudah dipanjat, juga pohon mangga yang rutin berbuah bersamaan dengan musim anak-anak memburu layangan putus. Angin bulan September yang berwarna indigo menerbangkan layangan incaranku, sedangkan dua orang anak kampung tanpa alas kaki mengejar dari lawan arah, ditambah lagi laki-laki botak yang muncul dari balik kerbau di ujung sawah. Hap!  "Dapat!" Aku meraih ujung layangan dengan mudah dari atas pohon yang sedang aku duduki, dan p...